KEBERAGAMAAN MASYARAKAT INDUSTRI
Keberagamaan adalah suatu konsep dalam agama yang mencakup keyakinan, ritual dan pengetahuan agama. Keberagamaan agama telah menjadi ciri khas dalam suatu Masyarakat diseluruh dunia. dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Berbagai keyakinan dan praktik keagamaan diseluruh dunia telah memperkaya warna budaya dan identitas manusia. Namun keberagamaan juga seringkali menjadi sumber konflik atau perselisihan dalam Masyarakat. Dalam artikel ini kita akan melihat bagaimana keberagamaan dalam masyarakat industri.
Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai keberagamaan. terlebih dahulu kita akan menguraikan pengertian dari keberagamaan itu sendiri. Keberagamaan berasal dari kata (religiosity) bermakna religious feeling or sentiment “perasaan agama”. Akar kata "religiusitas" adalah “religion” sering juga disebut religi, dalam bahasa latin disebut “religure” yang berarti ikatan atau pengikatan diri. Religion kemudian diartikan sebagai hubungan yang mengikat antara diri manusia dengan hal-hal yang diluar diri manusia, yaitu Tuhan. menurut C.Y. Glock dan Rodney Stark Juga mengemukakan bahwa keberagamaan seseorang menunjuk pada ketaatan dan komitmen seseorang terhadap agamnya, artinya menurut Said Alwi, (2014) keberagamaan seseorang pada dasarnya lebih menunjukkan pada proses-proses "internalisasi" nilai-nilai agama yang kemudian menyatu dalam diri individu membentuk perilaku sehari-hari.
Pengertian keberagamaan adalah suatu sistem yang kompleks dari kepercayaan keyakinan, sikap-sikap dan upacara-upacara yang menghubungkan individu dengan satu keberadaan atau kepada sesuatu yang bersifat ketuhanan. Keberagamaan merupakan satu kesatuan unsur- unsur yang komprehensif, yang menjadikan seseorang sebagai orang yang beragama (being religious) dan bukan sekedar mengaku mempunyai agama (having religion). Religius meliputi pengetahuan agama, keyakinan agama, pengalaman ritual agama, pengalaman agama, perilaku (moralitas agama) dan sikap sosial keagamaan
Kemajuan teknologi dan informasi seakan-akan menjadi tantangan tersendiri dalam cara beragama masyarakat ditengah lajunya industrialisasi. hal tersebut dapat dilihat dari masyarakat perkotaan yang cenderung bersifat individualis ketimbang masyarakat pedesaan yang lebih mengedepankan aspek-aspek solidaritas dan membangun komunikasi secara langsung. Perkembangan teknologi dan zaman yang semakin modern. Salah satunya adalah berkembangnya dunia maya (internet), yang semakin hari manusia sangat membutuhkan internet untuk mencari informasi serta menambah pengetahuan. Internet merupakan salah satu kemajuan teknologi yang dapat memberikan dampak yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia, baik pada aspek sosial maupun agama.
Masyarakat industri modern adalah masyarakat yang lebih mengedepankan aspek-aspek pada pencapaian dunia yang materi dan bukan pada tatanan bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan sesuai dengan tuntutan agama. perkembangan teknologi yang hampir mencapai puncaknya telah membawa masyarakat pada aspek yang lebih mementingkan dunia ketimbang kehidupan selanjutnya. Padahal jika kita mengacu pada berbagai ajaran agama, semuanya mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah bersifat fana dan tentunya ada kehidupan selanjutnya. Jika kita melihat bahwa hampir semua kebutuhan masyarakat terpenuhi secara materi. Di perkotaan maupun di pedesaan selama ada jaringan internet, maka orang-orang dengan mudahnya mengakses segala macam jenis aplikasi dan informasi, seperti halnya jika seseorang lapar atau ingin membeli sebuah pakaian atau benda-benda apapun, tidak lagi keluar rumah untuk membeli barang tersebut. cukup memesan dari rumah dengan menggunakan aplikasi maka barang yang dipesan akan datang di antar oleh seorang kurir atau jasa pengiriman barang. tidak hanya itu, bahkan dengan kemajuan teknologi dan segala hal di dalamnya, manusia sampai rela duduk, atau rebahan berjam-jam sambil mengamati apa yang teradi di media soial. Kehadiran berbagai macam jenis aplikasi atau website yang dapat di akses di dalam smarphone yang terhubung dengan jaringan internet, masyarakat tidak lagi susah paya untuk mencari sesuatu, dan selama masih tersedia semua bisa di akses, seperti banyak kasus beredarnya judi online, filem porno, dan meskipun ada fitur-fitur yang bisa untuk lebih bijak dalam menggunakan smartphone seperti positif dalam mengakses internet. Dalam era digital, komunikasi secara langsung/tatap muka dengan orang-orang terdekat menjadi sangat sulit untuk di lakukan. Seperti halnya perayaan hari Rayah ummat muslim, ajang silaturrahmi dari rumah kerumah sudah jarang terlihat. Cukup dengan mengirimkan pesan singkat “minal aidzin walfaidzin” sudah sangat lumrah untuk di lakukan.
Fenomena beragama di tegah lajunya digitalisasi ternyata banyak mengesampingkan nilai-nilai agama. Seperti halnya “hablum minannas” tidak lagi menjadi sebuah konsep untuk mengatur hubungan antara manusia secara dekat, dimana ikatan emosional juga menjadi aspek terpenting dalam tatanan kehidupan beragama. Ketika fenomena-fenomena agama semacam ini, lalu kemana pengamalan dari pengetahuan agama di jalankan. Perilaku beragama yang baik adalah cerminan dari ritual-ritual keagamaan yang di lakukan. Seperti banyak lagi fenomena-fenomena, orang beragama tidak lagi datang ke mesjid-mesjid atau greja untuk mendengarkan secara langsung isi cerama, cukup dengan mengetik di ponsel atau smartpohene melalaui aplikasi YouTube, maka ceramah yang di inginkan akan muncul dan siap untuk di dengarkan, dan banyak juga di temui isi dari ceramah di crop/potong dan hanya mengambil sebahagian dari isi cerama, sudah barang tentu hal ini bisa membawa masyarakat pada pemahaman agama yang ekstrim hingga beragama dengan cara radikal.
Dengan model seperti ini, artinya manusia tidak lagi mementingkan pada proses sosialisasi seperti komunikasi secara langsung, tetapi lebih mementingkan kemudahan untuk hidup yang lebih praktis. apa yang terjadi jika hal-hal seperti ini telah dilakukan oleh semua penduduk negara, sudah tentu akan mengesampingkan aspek sosial dan agama. ketika kita tarik kedalam SDM (Sumber Daya Manusia). contohnya lapangan kerja, penyedia kerja pada era digitalisasi/modern lebih mementingkan pada ilmu-ilmu yang praktis dan hampir ilmu agama lebih di kesampingkan, atau bahkan tidak di ketahuai peran agama dimana.
Sebagaimana telah disinggung dalam tesis awal bahwa di era moderen, industrialisasi telah banyak mempengaruhi pola kehidupan manusia, tidak hanya dalam hal yang profan tetapi menpengaruhi sekaligus dalam hal yang bersifat sakral. Sperti halnya dalam akad jual beli yang terkesan biasa saja dalam banyak pemahaman masyarakat, tetapi pada dasarnya jual beli (transaksi) banyak mengandung nilai-nilai sosial-keagamaan didalamnya. Dimana keduanya memiliki ikatan dalam arti kerelaan dan tidak adanya pihak yang dirugikan. lalu bagaimana dengan konteks jual beli online yang banyak kasus terjadi penipuan dan tentunya banyak pihak yang merasa dirugikan, meskipun dalam konteksnya begitu memudahkan. Tidak hanya dalam konteks jual beli, tetapi penggunaan gadget/smarphone yang dalam hal pekerjaan cenderung banyak mengesampingkan hal yang lain seperti mengerjakan kewajiban sebagai orang-orang yang beragama. meskipun pada dasarnya dalam era industrialisasi banyak memudahkan masyarakat untuk melakukan sesuatu, tetapi pada dasarnya masyarakat agama tetap membutuhkan nilai-nilai spritual dalam kehidupannya.
Keberagamaan sebenarnya merujuk pada keadaan atau kualitas dari memiliki keyakinan atau praktik keagamaan tertentu. ini mencakup aspek-aspek seperti keyakinan pada Tuhan atau kekuatan supernatural, spiritual, praktik ibadah, pengalaman nilai-nilai moral, etika, yang terkait dengan agama tertentu, serta partisipasi dalam komunitas keagamaan. Menurut Nashori dan Muchram dalam buku Perkembangan Relligiusitas Remaja Said Alwi, (2014) agama adalah seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan akidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianut. Jalaluddin (2001) mengemukakan bahwa keberagamaan merupakan sikap keagamaan, yaitu suatu sikap keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesui kadar ketaatannya terhadap agama. Said Alwi (2014) menambahkan bahwa pendapat tersebut lebih menekankan pada ketaatan seseorang terhadap ajaran agamanya yang diwujudkan dalam tingkahlaku. Said Alwi (2014) Mengemukakan bahwa keberagamaan merupakan ketertarikan dan ketaatan seseorang terhadap ajaran-ajaran agamanya dan di aktualisasikan lewat perilaku dalam kehidupannya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh agamanya. Said Alwi juga menambahkan bahwa individu yang religius tidak hanya sebatas mengetahui segala perintah dan larangan agamanya, akan tetapi menaati dan melaksanakan segala perintah agama dan meninggalkan segala larangannya. Kemudian keberagamaan merupakan sebagai suatu penghayatan terhadap nilai-nilai ajaran agama yang terinternalisasi pada diri seseorang dan di aktualisasikan lewat perilaku dalam kehidupannya.
Melihat dari uraian diatas mengenai keberagamaan yang mencakup keyakinan, ritual-ritual, pengetahuan dengan pengamalan yang di dapatkan dari aktualisasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. sudah tentu setiap manusia yang memiliki agama mempercayai suatu kekuatan diluar dirinya atau Tuhan, mengetahui ajaran agamanya. meskipun setiap manusia yang beragama mempercayai Tuhan atau mengetahui ajaran agamanya, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia akan menjalankan ajaran agamanya atau mengamalkan nilai-nilai agama di tengah kehidupan yang modern.
untuk menjawab persoalan-persoalan mengenai keberagamaan, diperlukan suatu upaya seperti penelitian yang berfokus pada masalah keberagamaan masyarakat modern di tengah lajunya perkembangan digital atau industri.
Refrensi
Jalaluddin Rakhmat. "Psikologi Agama Sebuah Pengantar", Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2021
Said Alwi. Perkembangan Religiustas Remaja, Yogyakarta: Kaukaba Dirpantara, 2014.
tulisannya cukup menarik, kiranya dapat membawa kita kepada aktifitas refleksi atas perubahan sosial dimasayrakat. kadang kadang kita tidak menyadari bahwa hal tersebut memang benar-benar terjadi
BalasHapus