AGAMA DI ERA MODERNITAS
TEORI-TEORI AGAMA (
MEMETAKAN NASIB AGAMA DI ERA MODERN)
Sebagian besar dibagian
Barat, kepercayaan dan praktik Kristen telah menurun secara signifikan.
Variasinya juga cukup jelas: di beberapa Negara, seperti Irlandia dan Polandia,
tingkat kepercayaan dan praktik masih sangat tinggi; di lain bagaimanapun,
seperti Swedia dan Denmark, mereka cukup rendah. Tapi apakah tren dan variasi
ini artinya? Bagaimana kita menjelaskannya? Sosiologi telah membahas hubungan
antara Agama dan sekularisme sejak lama. Diskusi itu terutama berfokus kepada
ketersediaan atau vitalitas Agama di era sekuler. Apakah sekularisasi akan
mengusir Agama dari masyarakat atau, jika tidak, ia akan mewujud dalam bentuk
baru adalah bagian dari topic yang menarik.
Sekularisasi Tesis,
pradigma lama, dan sekularisasi keras menurut tesis sekularisasi tentang Agama
atau teori sekularisasi, sebagai hasil dari modernisasi, kekuatan sosial Agama
akan berkurang. Pada dasarnya teori ini di kembangkan berdasarkan asumsi bahwa
Agama dan modernitas tidak bisah hidup berdampingan. Yang pertama, di pahami,
akan berangsur-angsur lenyap seperti yang kemudian menjadi ada. Secara teoritis, tiga proses
sekularisasi – peningkatan diferensiasi sosial, sosialisasi, dan rasionalisasi
menyebabkan tidak adanya signifikansi sosial Agama. Efek dari teori tesis sekularisasi begitu meresap yang
menurut Anthony Gill, telah menjadi pendekatan Dominan dalam Study Agama abad
ke-20. Kemudian menurut Suwatos dan Cristiano pada tahun 1999, di antara para
pendukung tesis sekularisasi adalah orang-orang Eropa seperti Bryan Wilson,
Pater Berger, Thomas Luckman dan Karel Dobbelare. Sekulsrisasi sebagaimana yang
dinyatakan oleh Partt, pada dasarnya berisi dua proses, yaitu sosial dan
intelek. Proses sosial yang bekerja dalam struktur masyarakat sedangkan
rasionalisasi adalah proses intelek yang bermain dalam cara orang berfikir.
Agama yang di bahas dalam tesis sekularisasi adalah Agama keyakinan dan
institusi. Oleh krenanya pada mulanya tesis sekularisasi mengasumsikan
penurunan Agama dalam kekuatan sosialnya, kemudian, hilangnya aspek – aspek
dalam jumlah praktiks dan kualitas orang – orang beragama. Akhirnya yang
terjadi sekularisasi menggeser masyarakat ke masyarakat dan individualism terus
berkembang, kemudian yang terjadi agama hanya menjadi masalah individu tidak
lagi komunal, Agama tidak lagi menjadi motivasi utama perilaku manusia dan juga
sumber moral atau etika. Kemudian lembaga-lembaga Agama akan kehilangan anggotanya
dan dan kemudian modernitas akan menggantikan peran atau fungsi mereka.
Dalam kata Hunter
Fundamentalisme adalah ortodoksi dalam konfrontasi dengan moderintas. Ini
adalah pemberontakan melawan hegemoni modernitas sekuler. Fundamentalisme ini
pada dasarnya adalah gerakan modern dalam arah yang berlawanan dengan
progresivisme modern. Ini dimulai dari kelompok Agama atau individu yang tidak
hanya menarik tetapi juga menolak modernitas. Fundamentalisme memiliki hubungan
erat dengan ideologI Agama dan identitas nasional. Fundamentalisme muncil
berdasarkan pada pemahaman kitab suci / literal mereka terhadap teks-teks suci.
Mereka menganggap teks suci sebagai firman Allah, tidak dapat salah, dan mutlak
benar. Oleh karenanya mereka menghindari interpretasi teks secara metaforis.
Perubahan keagamaan meskipun
Marx, Durkheim, dan Weber telah meramalkan bahwa Agma akan semakin hilang dari
masyarakat untuk perluasa institusi
modern, kita tidak hanya menonton Agama yang menolak untuk menjauh dari
masyarakat tetapi juga melihat munculnya novel Agama dan spiritual di
modernitas terlambat, kemudian Giddens menemukan penegasan Durkheim bahwa Agama
memiliki sesuatu yang kekal, yaitu symbol persatuan dan kolektif. Ketika
bereaksi terhadap modernitas, fundamentalisme bukan hanya gerakan teologis. Ini
adalah implementasi konsep teologis dan ideologis yang menentang modernitas.
Ketika kehilangan kekuatan sosial dar Agama-Agama tertentu akan diikuti
munculnya Agama sipil baru yang akan menggantikan peran sosial paling awal. Hal
- hal yang perlu di catat disini adalah bahwa perubahan Agama dapat mengambil
arah positif atau negatif. Seperti yang dikatakan oleh Dobbelere (2000) bahwa
perubahan Agama setidaknya terjadi di tiga bidang, yaitu; Masyarakat, indivdu
dan organisasi.
Paradigma baru.
Sekularisasi lembut, dan sakralisasi tesis rasional pilihan teori (RCT) dari
pasar Agama secara eksplisit menentang tesis sekularisasi dan menganggap bahwa
Agama tidak membangun dalam isolasi sosial. Agama selalu bersaing di pasar
religious. Asumsi dasar RCT adalah bahwa individu secara alamiah beragama dan
akan mengaktifkan pilihan Agama mereka, sama seperti pilihan lain, untuk
memaksimalkan keuntungan dan meminimilkan kerugian. Prinsip umumnya adalah
bahwa ketika denominasi yang lebih besar memilki variasi yang ukuran besar,
korelasi cenderung negatif, tetapi ketika dominasi yang lebih kecil lebih
bervariasi, korelasi cenderung positif. Buruce lebih lanjut mengatkan bahwa,
proses sekularisasi adalah bagian dan paket demokrasi modern liberal kecuali
ada alsan struktural seperti pertahanan budaya untuk menentang dan menghambat
tren yang dominan. Disini kemudian bahwa Agama dan Modernitas berdasarkan tesis
sekularisme menyesatkan. Seperti yang dicatat oleh Dobbelaere bahwa
sekularisasi memang merupakan konsep multidimensi. Tidak ada satupun teori
yang dapat menjelaskan tentang nasib
suatu Agama.
“Menurut
simmel,” perubahan dalam bentuk-bentuk religius adalah bagian dari paket. Dri
pergeseran yang terjad dalam masyarakat modern ketika kehidupan menjadi semakin
tersegmentasi. Mungkin saja ada kecenderungan umum dalam masyarakat modern
terhadap Agama yang lebih bersifat emotif dan agama yang kurang dogmatic baik
di dalam maupun di luar Agama yang terorganisasi. Modernsasi tentu saja berarti
perubahan Agama, jika demikian maka, mengklaim sekularisasi telah mejauhkan
Agama dari masyarakat. Namun yang benar adalah, menurut pendukung ini,
sekularisasi telah mendorong perubahan Agama baik dalam struktur dan konten,
mulai dari organisasi keagamaan hingga interpretasi ajaran Agama. Dengan
demikian, Agama dipaksa untuk menerima, beradaptasi, atau bahkan menentang
sistem modern.
Mengikuti tiga jenis sekularisasi oleh
dobbelaere (2002) perubahan Agama terjadi setidaknya di tiga bidang yaitu;
masyarakat, individu dan organisasi. Kemudian ketika menambahkan kata modern
juga menyiratkan bahwa modernitas telah menetapkan perubahan Agama menempatkan
agama sama seperti institusi politik, ekonomi dan sosial lainnya. Namun para
sarjana lain menyatakan bahwa alih-alih sekularisasi, modernitas, bahkan
mengarah pada sakralitas, dimana sacral muncul kemabli sebagai sosial dan
budaya. Hummond mencatat gerakan keagamaan baru adalah contoh kebangkitan suci
alam usia sekuler, baik dalam ranah politik dan ekonomi.
Tentu saja, religiusitas yang didasarkan
pada unsur-unsur budaya di sekitarnya akan memiliki vitalitas lebih untuk
bertahan hidup dari pada mereka yang mengabaikan warisan budaya. Secara
institusional, ada hubungan antara vitalitas Agama dan dukungan budaya. Agama
yang menjaga unsur budaya dalam masyarakat cenderung kuat dan mampu bertahan.
Unsur budaya adalah senjata lembut agama dalam melawan tseantangan modernitas.
Semakin banyak “dukungan budaya” sebuah agama, semakin penting hal itu. Artinya
tidak ada mater masyarakat berubah, selama agama masih memepertahankan unit
budaya di sekitar mereka, itu akan tetap ada. Oleh karenanya, ketika masyarakat
masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan keagamaan meskipun dalam era
modernisasi, maka agama itu akan tetap mampu untuk bertahan, atau agama itu akan
tetap ada dalam era
modern sekalipun. Hal tersebut dapat
kita lihat dari berbagai ragam gerakan-kerakan kebudayaan yang bernuansa agama,
serta gerakan-gerakan keagaman yang murni, tentu saja ingin menggenjot kembali
eksistensi agama di era modernitas.
Komentar
Posting Komentar