MISTISME DALAM AGAMA-AGAMA
MISTISME DALAM AGAMA YAHUDI DAN KRISTEN
PENDAHULUAN
Perdaban manusia tidak hanya dalam seperangkat doktrin teologis
tentang Tuhan dan ciptaan-ciptaanya, akan tetapi agama juga hadir dalam
seperangkat peraturan hukum yang ketat dalam mengatur kerumitan hidup induvidu
dan kolektif ummat manusia, baik sesama manusia maupun bagian yang lain dari
semesta ini. Lebih dari itu Agama hadir sebagai medium yang mewadahi dialog
sekaligus ke intiman relasi antara Tuhan
dan seorang hamba. Medium inilah yang disebut dalam studi Agama-Agama, sebagai
mistik dalam Agama. Sebagai salah satu dimensi agama seperti halnya
dimensi-dimensi lain seperti ritual, dimensi inetelektual, dan dimensi
doktrinal. Namun berbeda dengan berbagai mistisme yang lain. Mistisme merupakan
dimensi yang cukup unik, dimana sesuatu yang tidak dapat di jangkau oleh nalar
rasio dalam prinsip-prinsip logika. Berbeda dengan aspek-aspek yang lain yang
membutuhkan nalar, aspek ini hanya dapat diterima oleh iman dan ditempuh dengan
suatu jalan spritual yang ketat.
Pengertian Mistisme
Secara “etimologi” mistisme berasal dari bahsa yunani “misterion” dan akar kata “Mytes”
yang mengandung arti (orang yang mencari rahasia-rahasia kenyataan), dan “Myen”
yang berati menutup mata atau dekat[1].
Mystikos, mustikos, mustes, yang berati rahasia, mistis, dan terkait
dengan hal-hal misterius sebagai turunan dari mytes “orang yang
diinisiasi”. Di eropa sendiri istilah mysticism digunakan untuk
mendeskripsikan laku spritual para biarawan greja dan membersihkan jiwa mereka
dari kegelapan, kendati juga belakangan digunakan pada laku spritual Yahudi dan
Agama-Agama yang lain.
Terdapat
berbagai definisi yang menjelaskan tentang makna mistisme. AS Hornby misalnya,
mendefinisikan mistisme sebagai pengetahuan tentang Tuhan dan kebenaran ril yang dapat dicapai melalui
aktivitas penyembahan dan meditasi (meditation) lebih dari sekedar
pendekatan akal dan pengindraan. Sedangkan pelakunya disebut mistikus, yaitu
orang-orang yang berusaha menjadi tersatukan dengan tuhan melalui penyemabhan
dan meditasi sehingga dengan cara yang demikian ia mampu memahami berbagai hal
penting melebihi pemahaman manusia pada umumnya. Dengan demikian, Hornby menekankan
mistisme sebagai dimensi yang hanya bisa dicapai melalui penghambaan seluruh
jiwa dan realitas yang maha tinggi, bahkan berangkat dari pemikiran rasional
atau penyimpulan inderawi.
Membicarakan
mistisme berarti membicara suatu misteri besar yang tersembunyi, yang rahasia,
yang dari luar tak dapat dicapai oleh seseorang melalui indra, rasio kecuali
dengan jalan batin. Mistik secara umum dapat diartikan sebagai sebuah misteri
atau kekuatan-kekuatan yang ada di luar dan didalam diri manusia yang tidak
dapat di indra. Ini berarti bahwa mistisme adalah suatu kekuatan supranatural
yang tidak dapat di jangkau, diraba, oleh manusia, kecuali dengan jalan
batin.
Kata-kata
sperti “batin” dalam bahsa Arab telah menjadi kata misteri yang membuat orang
berfikir apakah ia berhubungan dengan apa yang disebut dengan mistisme. Di
barat, kata batin didefinisikan sebagai inner (isi dalam) yang
meruapakan lawan outer (sisi luar). Sisi luar adalah sesuatu yang tidak
termasuk ghaib. Dengan kata lain kita sebut mistikus adalah seseoang yang
mencari sesuatu yang tidak tampak.
Dalam mistisme,
Tuhan bukan lagi menjadi objek melainkan sudah menjadi pengalaman. Tujuan para
mistiskus tidak lain adalah untuk mengukuhkan sebuah relasi kesadaran dengan
yang absolut, dimana sebuah cinta yang
teramat pribadi ditemukan[2].
Mereka mencoba menyadi bahwa kehadiran Tuhan dengan makhluk, dengan memasuki
sebuah hubungan pribadi dengan Tuhan adalah sumber segala kehidupan. Jika agama
umumnya membuat jarak dengan Tuhan, mistisme mengajak untuk menyatu secara
intim dengan Tuhan, dengan cara memasukkan Tuhan ke dalam jiwa dan membuang
segala bentuk nafsu individualitas, pkiran dan tindakan duniawi.
Mistik pada
dasarnya adalah suatu pengalaman keagamaan yang dapat bersifat introverive atau
kecenderungan seseorang yang lebih menekankan pada aspek batiniah, mapun ekstrovertive
atau kecenderungan seseorang yang lebih menekankan pada aspek lahiria. Pengalaman itu tidak
berhubungan dengan waktu, ada hubungan dengan sesuatu yang transenden yang
menimbulkan rasa ketenangan dan kebahagiaan dan biasanya dikiuti dengan
kemampuan menguasai diri sendiri[3].
Pengalaman
mistik meruapakan pengalaman keagamaan dalam arti yang lebih luas dan lebig
dalam dari sekedar beragama. Ia merupakan sebagai pengertian yang mengacu pada
sebuah totalitas, sesuatu yang menundukkaan manusia pada tempat yang penting
sepanjang tempat dan waktu, dan sesuatu tempat yang menjadi tempat bergantungnya
keselamatan seseorang. Lebih khusus lagi pengalaman mistik bukanlah sikap untuk
menerima informasi teologis ataupun informasi keagamaan, melainkan lebih sering
menjadi lawan atau bertentangan dengan tradisi keagamaan yang lazim dianut
Secara
istilah ada beberapa pengertian tentang mistisme antara lain:
1.
Keyakinan
bahwa kebenaran terakhir tentang kenyataan tidak dapat diperoleh menlalui
pengalaman biasa, dan tidak melalui pengalaman intelek (akal budi), namun
melalui pengalaman mistik atau intuisi mistik yang non rasional.
2.
Pengalaman
non rasional dan tidak biasa tentang realitas yang mencakup seluruh realitas
transenden ( sesuatu yang melampaui duniawi) yang memungkinkan diei bersatu
dengan realitas yang biasanya dianggaap sebagai sumber atau dasar eksistensi
semua hal.
3.
Mistisme
secara harifah berati pengalaman batin, yang tidak terlukiskan, khususnya yang
mempunyai ciri religius. Dalam arti luas dimengerti kesatuan yang mendalam
dengan Allah. Arti yang sempit kesatuan yang luar biasa dengan Allah.
4.
Mistisme
adalah bahwa Tuhan dikenal dalam bagian-bagian yang terdala dalam didalam jiwa
manusia secara ekspensial (pengalaman)[4].
Definisi lain diberikan oleh Rufus M. Jones, yaitu; mistisme
mengandung arti bahwa yang paling sederhana dan paling pokok adalah suatu tipe
agama yang memberikan tekanan pada kesadaran yang lagsung berhubungan dengan
Tuhan, kesadaran akan kehadirana Tuhan yang langsung dan akrab. Mistisme
mrupakan agama pada suatu tingkatan yang
mendalam[5].
Definisi yang lain di kemukakan oleh Ibnu Arabi tentang mistik
sejati adalah dia yang memandang (melihat) Tuhan dari Tuhan didalam Tuhan dan
melalui mata Tuhan: Dia yang menganggap (melihat) Tuhan dari Tuhan di dalam
Tuhan tetapi tidak melalui mata Tuhan bukanlah seorang gnostik (arif),
dan dia menganggap melihat Tuhan tidak dari Tuhan dan tidak pula dari dalam Tuahan, dan mengahrapkan melihat dia
dengan matanya sendiri[6].
Harun Nastion juga menberikan definisi tentang mistisme, yaitu menurutnya
mistisme apakah dalam Islam atau luar Islam, memosisikan pencapaian hubungan
langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari dengan benar bahwa
seseorang berda di hadirat Tuhan sebagai tujuan. Sedangkan intisari dari
mistisme sendiri termasuk tasawuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan
dialog antara ruh manusia dengan Tuhan, dengan mengasinkan diri dengan
berkontemplasi. Kesadaran ini selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali
dengan Tuhan dalam arti bersatu dengan Tuhan (ittihad mistical union)[7].
Dari berbagai macam definisi yang dikemukakan di atas, kita dapat
menarik sebuah benang merah untuk memfokuskan
kajian yang menjadi pembahsan khusus mengenai mistisme dalam agama Islam
dan Yahudi, bahawa mistisme adalah suatu bentuk penagalaman spritual , yaitu
pengalaman langsung yang bertemunya jiwa manusia dengan sesuatu kebenarah mutlak (absolut) atau yang transenden yaitu Tuhan.
Pengalam-pengalaman ini memang tidak sanggup di nalar oleh manusia, karena
memang sifatnya adalah sesuatu yang memang menurut kita sebagai suatu yang berbeda
dengan dimensi kita sebagai orang awam. Pengalaman pengalaman mistisme biasanya
di tempuh melalui jalur khusus dalam ritual setiap agama.
Jenis-Jenis Mistiik
Union Mistik
Istilah
kesatuan mistik atau “mistical union” bersal dari bahasa latin “inua mystica”
yang berarti suatu pengalaman menyatunya antara jiwa manusia dengan realitas
yang maha tinggi yang terjadi tanpa perantara. Kebersatuan ini mengangkat jiwa
manusia kepada puncak potensinya sehingga ia mencapai atau bahkan menyatu
dengan Tuhan atau setidak-tidaknya dengan pengetahuan Tuhan atau sumber
transenden kehidupan
Dalam
buku Mystical Dimention pf Islam karya Anne Marie Schimmel, istilah
union mistik merupakan nama dari ajaran mistik, yaitu mysticsm of imfinity. Paham
mistik yang memandang Tuhan sebagai realitas yang absolut dan tak terhingga dan
memandang Tuhannya, Tuhan sebagai zat yang immanent yang bersemayam didalam
alam semesta dan dalam diri manusia. Para penganut unio mistik menekankan pada
pendekatan valuntaristik , yakni berusaha membebaskan dan melarutkan
kediriannya dengan Tuhan dan menyatukan kehendaknya dengan kehendak Tuhan[8].
Pengalaman
menyatu subyek dengan Tuhannya dianggap
sebagai tingkat tertinggi dari pengalaman mistik dan jalan perenungan. Dalam
beberapa Agama pengalaman ini hanya akan bisa dicapai apabila seseoran melalui
tingkatan-tingkatan atau jalan, pada penghayatan ini di capai dehan tiga taraf,
yaitu; via purgativa,via contemplativa dan via illiminativa.
Via
purgativa, merupakan
segi filosofis yang terberat karena terdiri dari mawas diri, penguasaan segala
nafsu, dan kemudian mensucikan segala isi hati hanya untuk Tuhan saja. Untuk
mencapai penghayatan semurni-murninya kepada Tuhan, seseorang harus berani
membuang segala ikatan dengan dunia atau membasmi segala nafsu atau keinginan
terhadap selain tuhan.
Via
contemplativa adalah
meditasi, yaitu memusatkan segala kesadaran dan pikiran dalam merenungkan
keindahan Tuhan dengan penuh kerinduan. Tingkatan ini merupakan segi praktis
seperti halnya upacara perwujudan atau meditasi dan penghayatan kepercayaan
kepada Tuhan yang maha Esa. Meditasi ini baru bisa dijalnkan dengan sempurna
apabilla hatinya telah suci dari nafsu-nafsu dan noda-noda keduniaan.
Illuminativa adalah proses terbentuknya tabir penyekat dalam gaib, atau proses
mendapatkan perenangan dari nur gaib sebagai hasil dari meditasi atau dzikir.
Pengahayatan gaib ini berjenjang-jenjang dan memuncak pada pengahayatan ma’rifa
pada Tuhan atau bahkan penghayatan manunggal pada Tuhan. Bagi paham union misti
ini hanya bisa di alami oleh para kaum kebatinan, dan tidak bisa di capai oleh
orang awam.
Personal Mistik
Personal
mistik (misticism of personality) dan lebih dikenal dengan mistik
kepribadian, yang berarti hubungan manusia dengan Tuhan, dipahami sebagai
hubungan pencipta dan makhluk. Paham kedua ini konsep creatio ex nihila (Tuhan
menciptakan alam dari kehampaan menjadi ada, alam sebagai yang baru), seperti
ajaran al-Qur’an dan injil, tetap dipertahankan. Paham ini dalam bebtuk yang
lain disebut sebagai paham taransendentalis mistik, yaitu paham mistik yang
mempertahankan adanya perbedaan yang esensial antara manusia sebagai makhluk
dan Tuhan sebagai yang khalik atau sang pencipta. Tuhan dipandang sebagai dzat
yang transenden mengatasi alam semesta.
Paham
transendentalis atau personalis mempergunakan pendekatan gnostik, yakni
berusaha untuk mendapatkan pengetahuan lagsung yang sedalam-dalamnya tentang
Tuhan. Ia berusaha mengetahui struktur semestanya atau menafsirkan drajat
wahyu-nya. Dalam arti yang lain adalah untuk memantapkan dan menghidupkan
keyakinan dan pengalaman agama dengan perantara penghayatan ma’rifat kepada
Tuhan.
Mistisme Agama-Agama
Mistisme
merupakan bagian penting dalam setiap agama, sebab selain dimesi formal
eksoterik, agama juga mengandung dimensi batin esoterik. Dimensi pertama
terefleksikan dalam aturan-atiuran hukum legal keagamaan, sedangkan dimensi
kedua terefleksikan dalam wilayah spritualitasnya. Dengan demikian meski tidak
sedikit mendapat resistensi dari
internal agamanya sendiri, terutama para penganut keagamaan eksoteris,
namun menurut Schimmel, miatiame merupakan salah satu arus besar yang mengalir
dalam setiap agama dalam wujudnya bersifat Ruhaniah dan Substantif. Karenaya menurut
Harun Nasution, mistisme pasti akan dijumpai dalam setiap agama, baik agama
teistik seperti Islam, Yahudi, dan Nasrani maupun mistik nonteistik seperti
Budhisme dan Hindu.
Kelompok ini dalam setiap agama dengan nama yang cukup beragam,
yakni kebersatuan dengan yang ilahi. Didalam Islam mislnya dikenal dengan
tasawuf dengan para penempunya disebut sufi yang berkembang mulai dengan
gerakan aksetisisme hingga persaudaraan spritual (tarekat) yang lebih
terlembaga[9].
Mistisme dalam agama-agama erat kaitannya dengan sesuatu kekutan supernatural
yang berada jauh diluar kendali manusia atau ummat beragama. Selain agama-agama
besar seperti Yahudi, Kristen,Islam Hindu dan Buddhan, kepercayaan masayarakat
kuno telah lama mengenal mistime dalam
kepercayaan mereka, sepeerti Animisme dan Dinamisme. Kepercayaan-kepercayan
terhadap roh-roh suci yang bersemayam di balik pohon-pohon, batu, dan
peristiwa-peritiwa alam seperti hujan, badai dan petir telah lama di percaya
oleh masayarakat tribal, atau suku-suku yang hidup sebelum kehadiran agama.
Mistisme Dalam Pandangan Yahudi
Mistisme dalam
pengalaman spritual menjadi sisi takterpisahkan dalam perkembangan Agama
Yahudi, seperti halnya Agama-Agama yang lain. Mistisme dalam tradisi Yahudi
dipahami sebagai jalan kebersatuan dengan yang Ilahi. Tak ada sikap perbedaan
antara Yahudi dengan Agama-Agama yang lainnya dalam memosisikan aspek mistisme.
Trdisi mistisme
dalam Agama Yahudi diyakini bersumber dari teks-teks suci maupun pengalama para
Nabi dan iman yang mangandung banyak pengetahuan mistikal seperti kunjungan
para malaikat memmbawa wahyu ke-Nabian, mimpi-mimpi dan ramalan suatu peristiwa
yang berda diluar jangkauan nalar. Torah dan Talmud , misalnya, diyakini
mengandung banyak petunjuk samar yang memantikan tubuhnya gagasan mistik
didalam Agama Yahudi.
Didalam tradisi
Yahudi, ada sebuah kelompok mistik yang
bernama mistik Kabbalah. Istilah pemikiran mistisme kelompok ini dikenal juga
dengan Qavalah yang bersumber dari akar kata ibrani (qof-bet-lamed)
yang berarti “menerima atau penerimaan”. Qabalah atau Kabbalah
sebagai tradisi yang diterimah langsung dalam praktik dan gagasan esoterik yang
digunakan untuk membukakan tabir realitas mistik yang terselubung dalam kitab
suci Ibrani. Kabbalah menawarkan pemahaman mistis kedalam hakikat ilahi,
taradisi kabbalah di yakini sejak Adam. Ia di anggap sebagai pengetahuan yang
diturunkan sebagai sebuah wahyu untuk memilih orang-orang suci dari masalmpau
yang jauh, dan sebahagia dilestarikan oleh segelintir orang yang beruntung.
Kabbalah dan teks-teks sucinya telah menjaadi sumber dalam memahami hikmah yang
berda dibalik misteri.
Sejak awal abad ke-13 M, Istilah Kabbalah menjadi terminologi utama
bagi tradisi mistikal Yahudi yang secara ekslusif. Pemahaman filosofis tentang
Tuhan yang di kombinasikan dengan pandangan simbolik tentang realitas dan konsep teorgis tentang kehidupan
keagamaan. Kemudian jalan untuk mendapatkan pengalaman mistikal tentang tuhan
melaui Zikir/penyebutan nama-nama ilahiyah[10].
Seiring dengan perkembangannya, Kabbalah tidak lagi sebagai ajaran
dan peraktek mistikal esklusif Yahudi.
Dengan pemahaman Taurat dan Talmud yang baik, kabbalah tidak lagi di posisikan
sebagai ajaran mistik Yahudi, melainkan di posisikan sebagai pengetahuan, bukan
Agama atau dogma.
Mistisme dalama pandangan Kristen
Mistisme
kristen merujuk pada teori mistikal yang berkembang di lingkungan Kristen itu
sendiri. Dan sering kali terkoneksi pada teologi mistikal, terutama pada
tradisi Kristen Ortodoks Timur dan Katolik.
Dalam ke-
Keristenan awal, mistis ini berkaitan dengan tiga dimensi penting yang saling
berhubungan dengan satu sama yang lain, yakni dimesi biblikal, dimensi
liturgis, dan dimensi spritual atau kontemplatif. Dimensi pertama merujuk
kepada wilayah yang tersembunyi atau tafsiran alegoris teks-teks suci Alkitab.
Adapun dimensi kedua, dimensi liturgis merujuk pada misteri Liturgis Ekaristi,
yakni kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Sedangkan dimensi ketiga, dimensi
kontemplatif atau spritual, merujuk kepada pengetahuan eksprensial atau
spritual tentang Tuhan atau yang ilahi.
Tradisi
mistisme dalam Agama Kristen berkembang sejak kelahiran Agama itu sendiri.
Secara historis, gagasan-gagasan mistikal Kristen mulai berkembang sejak abad
ke-2 M. Selain praktik-peraktik yang bersifat spritual, perkembangan ini
merujuk kepada keyakinan bahwa ritual dan Kitab suci memiliki makna yang
tersembunyi yang bersifat mistikal dan tak dapat di nalar. Dalam konteks ini,
peran para Bapak Greja priode awal tidak dapat di abaikan, mereka senantiasa menempatkan
kata mistik dalam bentuk ajektif ketika mengintroduksi hubungan antara mistisme
dan visi yang Ilahi, seperti teologi mistikal dan kontemplasi mistikal.
Terkait
spritual,, gagasan bahwa realitas spritual dapat dicapai memalui pembacaan
Alkitab secara alegoris, menekaknkan aketisme dan pertempuran spritual meniru
Kristus membawa palang kayu salib.
Gerakan
mistisme berkembang cukup luas dalam dunia Kristen. Bahkan paca gerakan
reformasi, mistimse Kristen kembali bermekaran. Di Spanyol misalnya, ada Ignatius
Loyola yang meberikan latihan runahi yang dirancang untuk membukakan hati
manusia dalam menerima kesadaran dekat dengan yang Ilahi (Tuhan) dengan jalan
spritual yang hati-hati dan pengetahuan tentang pikiran yang terhubung dengan
kehendak dan pengalaman penghiburan dan kesedihan rohani
DAFTAR PUSTAKA
Afifi. (1995) Filsafat Mistis
Ibnu Arabi, Gaya Media Pratama, Jakarta.
Lorens Bagus, (1996) Kamus
Filsafat, PT.Gramedia, Jakarta.
Naution Harun, (2009). Islam
Ditinjau dari Berbagai aspeknya, Jakarta, Ui Pers.
Ramdan. (1993). Tasawuf dan Aliran Kebatinan, LESFI, Yogyakarta.
Scimmel, Annimarie (1986) Dimensi Mistik Dalam Islam,
Pustaka Firdaus, Jakarta.
http://kabbalah.com/about-kabbalah-centre
[1] Bagus Lorens,
Kamus Filsafat, PT Gramedia, Jakarta, 1996,hlm,652.
[2] Margareth
Smith,hlm, 19.
[3] Ramdan,Mistisme,
LESFI, Yogyakarta,1990,hlm, 153.
[4] Bagus Lorens, Kamus
Filsafat, PT. Gramedia, Jakarta, 1996, hlm, 654.
[5] Ramdan,Tasawuf
dan Aliran Kebatinan, LESFI, Yogyakarta,1993, hlm, 9.
[6] A.E Afifi,Filsafat
Mistis Ibnu Arabi, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1995, hlm,195.
[7] Harun
Nasution, Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya, Ui pres, Jakarta,2009,hlm, 68.
[8] Annemarie
Scimmel, Dimensi Mistik dalam Islam, Tre; Supardi Djaka Dawana,
Pustaka Firdaus, Jakarta,1986,hlm.5
[9] Harun
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya,Ui Pres, Jakarta,2009,
hlm,68.
[10] http://kabbalah.com/about-kabbalah-centre, di akses 12
januari 2021 jam 09;23
Komentar
Posting Komentar